Pengolahan sampah di sekolah ini juga dilakukan menurut jenis sampah yang dihasilkan. Sampah kertas misalnya. Jika di kebanyakan sekolah pembuangannya dijadikan satu dengan jenis sampah non organik lainnya, maka di sekolah ini sampah kertas dikumpulkan khusus di tempat sampah tersendiri. Setiap hari, petugas piket masing-masing kelas bertugas memindahkan sampah-sampah kertas yang terkumpul di kelas ke tempat penampungan sampah kertas di recycling center sekolah.
Setelah sampah kertas terkumpul dalam jumlah cukup banyak, maka tim kertas sekolah menjualnya ke pengepul sampah kertas di dekat sekolah. Hasil penjualan sampah kertas ini cukup banyak. “Dalam satu minggu kami bisa mendapatkan uang antara seratus ribu rupiah sampai seratus lima puluh ribu rupiah,” kata Ainur Rohman siswa kelas 8 anggota tim lingkungan hidup SMP Negeri 1 Kedamean Gresik. Selanjutnya, menurut Ainur, uang yang terkumpul digunakan untuk membeli alat-alat kebersihan.
Berbeda dengan sekolah-sekolah lain, sampah plastik cukup susah ditemukan di sekolah yang beralamat di Jl. Raya Kedamean 19 B Gresik ini. Nyaris sampah plastik yang ditemukan di sekolah ini hanyalah plastik pembungkus mi instan yang dijual di kantin. Sementara itu, sampah-sampah organik semuanya diolah menjadi kompos. Khusus untuk sampah daun, kulit buah dan ranting-ranting pohon, sekolah menggunakan alat bantu berupa mesin pencacah. Mesin pencacah biasanya dioperasikan sebulan sekali.
Taman tanaman obat keluarga cukup luas di sekolah ini. Tanaman yang ditanam pun banyak variasinya. Ada temulawak, kencur, jahe dan kunyit. Ada juga tanaman binahong, mahkota dewa, buah naga, dewandaru dan rosella. Tanaman-tanaman itu tidak hanya mereka tanam, namun juga dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari.
Tanaman rosella misalnya. Tanaman yang memiliki daun menyirip dan bunga berbentuk kuncup merah ini sering dimanfaatkan untuk sirup, selai dan manisan. “Bunga rosella bisa dimanfaatkan untuk obat hepatitis akut. Sementara 7 lembar bunga yang dikeringkan jika dimasak di air mendidih dan disaring, maka ampasnya bisa dibuat selai,” kata Vita Fitria Ramadhani anggota tim lingkungan hidup kelas 8 SMPN Kedemean 1 Gresik.
Uniknya, tanaman-tanaman berkhasiat obat tersebut dikelola oleh kelompok pandu (Pramuka) lingkungan hidup. Pandu lingkungan hidup juga mengadopsi sepetak lahan kosong di sekolah berukuran 2 x 10 meter untuk dijadikan taman sekolah. Tentunya program pandu lingkungan hidup SMPN Kedamean 1 Gresik ini patut dicontoh Pramuka di sekolah lain yang masih berkutat pada sandi, tali temali dan baris berbaris.
Sekolah ini sangat identik dengan tanaman adenium. Bahkan adenium dijadikan maskot sekolah ini. Begitu banyaknya adenium yang dihasilkan para siswa, mereka bahkan menjadikan pembibitan adenium sebagai salah satu upaya menggalang dana untuk program lingkungan hidup sekolah. Tidak jarang mereka menjual adenium sambil berkeliling desa. ”Sambil berjualan adenium, kami juga melakukan sosialisasi pendidikan lingkungan hidup pada masyarakat desa sekitar,” kata Luluk Roudhotul Jannah siswa kelas 8 anggota tim lingkungan hidup.
Di SMP Negeri 1 Kedamean Gresik pelajaran lingkungan hidup tidak hanya disisipkan pada mata pelajaran umum atau terintegrasi. Pelajaran lingkungan hidup di sekolah ini disampaikan secara monolitik. Artinya, ada pelajaran khusus lingkungan hidup setiap minggunya. ”Waktu pelajaran lingkungan hidup dialokasikan 2 jam pelajaran per minggu untuk semua kelas paralel kelas 7, 8, dan 9 pada semester ganjil dan genap,” kata guru penanggung jawab lingkungan hidup Sofiah.
Sudah tiga kali berturut-turut, sejak tahun 2006, sekolah ini mendapatkan penghargaan Adiwiyata dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan-penghargaan lingkungan hidup lainnya juga sering didapatkan sekolah ini. Diantaranya juara IV kompetisi reportase Kali Surabaya pada Festival Kali Surabaya 2008, nominasi olimpiade sains nasional 2008, juara harapan I lomba melukis dan juara III lomba cipta karya barang bekas pada Children Conference on Climate Change 2007.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar